West Papua dan Rasa Takut

Ketika kita berbicara “West Papua” sahabatnya adalah “Rasa Takut”. Hampir 75% orang Papua menginginkan Kermerdekaan namun hanya 30% orang Papua yang Menyuarahkan kemerdekaan, ini akibat Rasa Takut dan Resiko yang menghantui di sebagian besar orang Papua. Dan, hal ini disebabkan lahir dari apa yang dilihat dan dirasakan oleh orang asli Papua (OAP) di atas tanahnya sendiri, akibat dari peraktek-praktek penyalahguan Kekuasaan dan Kekerasan yang berlebihan, yang sudah diterapkan dan sudah terjadi di tanah Papua oleh Indonesia melalui aparatur negera dan jajaranya, hanya karena OAP menuntut hak-hak kedaulatan kemerdekaan (Papua Merdeka).


Kamasan III SBY, 16 Juli 2018.
Kutipan motivasi merai kebebasan dan membuang rasa takut.
Judul : West Papua dan Rasa Takut
Oleh : Wandikbo Bael
Quote : Nistains Odop – Berani Gagal=Berani Sukses

“Fear Faktor – Rasa Takut”

Telah membatasi kreativitas manusia dan menyebabkan mereka tidak berani berbuat banyak. (Nistains Odop — Berani Gagal=Berani Sukses)

Takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Beberapa ahli psikologi juga telah menyebutkan bahwa takut adalah salah satu dari emosi dasar, selain kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan.

Disini saya ingin mengores tentang kesaksian teman saya yang ketika itu katanya ia “TAKUT” untuk menyuarahkan atau membelah hak-hak orang yang ditindas di bumi cenderawasih “WEST PAPUA”, sama halnya seperti saya dulu, namun saya sarankan padanya bahwa RASA TAKUT tidak akan pernah membebaskan belenggu tirai kekuasaan yang dihadapi bangsa West Papua.

Ketika pemerintah takut pada rakyat, maka akan lahir kebebasan. Tapi, ketika rakyat takut pada pemerintah, maka akan lahir tirani. (Thomas Jefferson)

Manusia dan ketakutan tidak dapat dipisahkan enta pada apa tergantung apa yang dinilainya untuk dirasa pada ketakutan itu sendiri. Rasa takut terkadang dijadikan hal yang wajar sebagai manusia padahal ketakutan hanyalah salah satu bagian dari hasil produksi otak dan pikiran. Jika program rasa takut menjadi lebih besar, maka output yang dihasilkan meyebabkan Anda penyakut.

Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku . . . Ayub

Sebabnya saya berpikir, ketakutan tidak akan membawa kita dalam proses kemerdekaan pada diri sendiri atau pada suatu bangsa padahal kita menginginkan kebebasan namun kita tetap ada dalam rasa takut, ingin terus berada dalam zona nyaman atau hanya bermain aman dan takut akan resiko.

Ketika rasa aman itu menjadi kebutuhkan, manusia tidak mau beranjak dan tetap berada di tempat, celakanya disitulah kemalangan siap menelan mereka. (Nistains Odop — Berani Gagal=Berani Sukses)

Tetap berada dalam zona nyaman maka kita tidak akan mencapai pada tujuan yang kita impikan, karena pencapaian kita yang merai bukan diberikan, begitu pula dengan kemerdekaan West Papua.

Orang-orang yang sudah bebas, orang-orang yang sudah merdeka dan orang-orang yang sudah memimpin bangsanya sendiri mereka adalah pemenang saat ini, bukan berarti mereka tidak pernah kalah namun mereka tidak pernah menyerah.

Pemenang bukan tidak pernah kalah, dia hanya tak pernah menyerah. (Nistains Odop — Berani Gagal=Berani Sukses)

Sama halnya bangsa West Papua, “kemerdekaan itu diraih, dan kemenangan akan datang didepan mata kecuali kita membuang rasa takut”, berani keluar dari zona nyaman, karena usaha tidak akan menghianati hasil. Kita hanya perlu membuang semua rasa takut yang sedang menghantui pada diri kita.

Mari kita bermain dengan RESIKO!!!
• Mencari pekerjaan adalah RESIKO.
• Menyeberang jalan adalah RESIKO.
• Mulai bisnis, adalah RESIKO.
• Berpolitik adalah RESIKO.
• Menikah dan memiliki hubungan keluarga adalah RESIKO.
• Hidup adalah RESIKO.
(Nistains Odop — Berani Gagal=Berani Sukses)

Jika semuanya adalah resiko dalam hidup, lalu kenapa kita takut RESIKO bicara “West Papua”? Yang jelas-jelas Tuhan sendiri telah memberi kita kebebasan sejak kita lahir, namun kita takut pada kekuatan sesama manusia, takut pada peraturan manusia yang seharusnya kita hanya takut pada perintah Tuhan dan menyembah-Nya sajakan?.

8 tanggapan untuk “West Papua dan Rasa Takut

  1. Dirty people just think about their power, they do not care what happens to humanity. The most important thing in Papua is to struggle to the end because the natural wealth you possess them will continue to scratch that wealth and the killing of Papuans will continue.


    Orang orang kotor hanya berpikir tentang kekuasaan mereka, mereka tidak peduli apa yang terjadi terhadap kemanusiaan. Yang paling penting di Papua adalah berjuang sampai akhir karena kekayaan alam yang kalian miliki mereka terus akan mengaruk kekayaan itu dan pembunuhan terhadap orang Papua akan terus berlangsung.

    Suka

Komentar ditutup.